Mengenal Dekat Long House Saham

Long House Saham

Sisi lain keunikan Kabupaten Landak terlihat di Rumah Panjang (Long House) Saham.

Rumah Panjang Saham merupakan peninggalan bersejarah Suku Dayak Kanayatn atau Dayak Bukit. Dari penuturan yang berkembang turun-temurun, Rumah Panjang Saham telah ada sejak tahun 1875.

Rumah terpanjang di Kalbar ini terletak di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 50 kilometer dari Kota Ngabang, Ibukota Kabupaten Landak.  

Keberadaan Rumah Panjang Saham hingga kini tetap dilestarikan sebagai salah satu warisan leluhur Suku Dayak Bukit. Itu terlihat dari upaya pemugaran bangunan yang terus-menerus dilakukan oleh pemerintah setempat.

Juru pelihara sekaligus seniman pahat di Rumah Panjang Saham, Albertus mencatat sudah enam kali cagar budaya ini direhabilitasi. Namun beberapa detail bangunan, seperti rumah pertama dalam struktur bangunan rumah panjang, masih dibiarkan asli.

Rumah Panjang Saham bisa jadi sebagai long house terpanjang di Kalimantan Barat, mencapai 180 meter. Di dalam bangunan utama terdapat 35 pintu dihuni oleh 210 jiwa dari 45 Kepala Keluarga.

Lebar dan panjang masing-masing pintu bervariasi, empat atau lima meter. Ada pintu yang memiliki panjang 40 meter dan ada hanya sepanjang 20 meter.
Meski lebar dan panjang berbeda, struktur asli bangunan tetap sama di semua pintu. Setiap pintu memiliki kamar, dapur, dan kamar kecil.

Keunikan sebenarnya sudah terasa saat menaiki rumah panjang itu. Kita bisa melihat pante (teras) sepanjang 180 meter. Lantainya berbahan kayu belian tua yang disusun rapi tanpa kerapatan.

Setelah teras ada dinding pembatas berbahan kayu tekam. Sama dengan teras, dinding juga memiliki panjang panjang 180 meter dengan puluhan pintu masuk ke bangunan utama.

Di sisi kiri setiap pintu masuk ada pene atau bale-bale. Tingginya sekitar pinggang orang dewasa dengan lebar sekitar dua meter dan panjang dua meter setengah.

Pene ada di setiap rumah. Diadakan sebagai tempat duduk bagi para tamu yang mengunjungi penghuni rumah panjang. Pene biasa juga digunakan pemilik rumah untuk sekadar berbincang-bincang melepas lelah.

Di ruang tengah rumah panjang, terbentang samik (lantai). Samik ini biasa digunakan untuk acara-acara adat. Saat upacara berlangsung mereka duduk melantai.

Di rumah panjang inilah semua penghuni melakukan aktivitas komunal yang masih mereka pertahankan. Misalnya, gotong royong menampik padi, berkebun, dan berladang.

Keunikan lain, penghuni di rumah panjang ini terikat dengan aturan-aturan tertulis dan tidak tertulis yang dibuat oleh pasirah (ketua adat). Pasirah mengatur kehidupan penghuni agar tetap seimbang, tanpa percekcokan.

Penghuni yang tidak patuh dengan aturan-aturan ini akan dikenakan sanksi adat dengan barang-barang sebagai denda adat. Besaran denda adat bervariasi tergantung dari kesalahan si pembuat.