Telur Penyu Pantai Paloh Terancam

Dijarah Kemudian Dijual untuk Dimakan
Telur Penyu

Puncak penyu bertelur pada awal Mei dihantui dengan kekhawatiran penjarahan.

Pada bulan ini, Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar, biasanya dipenuhi oleh 900 hingga 1.500 ekor penyu. Penyu ini naik di sepanjang pantai untuk bertelur.  

“Dalam satu musim bertelur antara Juni hingga Desember, penyu naik di sepanjang Pantai Paloh. Seekor penyu biasanya mengeluarkan telur antara 100 hingga 200 butir. Tetapi tidak semua penyu yang naik ke pantai untuk bertelur,” kata Koordinator site Paloh WWF-Indonesia Program Kalbar, Dwi Suprapti.

Dari semua telur sepanjang musim itu, hampir 100 persen terancam dijarah. Jika ada yang selamat pun jumlahnya tinggal sedikit.

“Itu baru telurnya, belum lagi predator yang memakan anak penyu atau tukik jika menetas nanti menjadikan fauna itu makin hari jumlahnya kian berkurang. Karena setiap malam sepanjang musim bertelur ada saja penjarah yang berkeliaran di pantai. Ketika penyu naik dan bertelur biasanya penjarah sudah menunggu di tempat itu," ungkap Dwi.

Dwi mengatakan, dalam satu musim ada telur yang selamat dari penjarahan. Bukan dibiarkan, tetapi tidak terpantau oleh penjarah.

Jenis yang paling banyak di Pantai Paloh adalah penyu hijau dan sisik. Jenis lain seperti penyu belimbing namun jumlahnya sedikit. Setiap tahun jumlah penyu yang naik di Pantai Paloh terus berkurang.

Penyu, kata Dwi, akan bertelur di kawasan kondisinya kondusif, bebas dari aktivitas, tidak ada cahaya buatan, dan sampah yang mengganggu perjalanan penyu di pantai.

Kondisi pantai menjadi pertimbangan penyu untuk bertelur, satwa ini senang bertelur di pantai yang landai dan tanpa karang. "Paloh memiliki kriteria tersebut, karenanya penyu mau naik dan bertelur di pantainya," jelasnya.

Saat ini, lanjut Dwi, ada masyarakat Paloh yang berkomitmen menjaga kelestarian penyu dengan menjaga telurnya dari penjarahan. Mareka tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo. Diharapkan keinginan mereka menjaga kelestarian satwa dilindungi itu tidak tergerus waktu dan dapat menularkan pola pikir konservasi tersebut kepada masyarakat lainnya.

"Saat ini Kambau Borneo berjumlah 26 orang. Mereka merupakan relawan dari masyarakat sekitar yang berkomitmen menjaga kelestarian penyu dan lingkungan sekitarnya," jelas Dwi.