Mendu, Seni yang Mulai Ditinggalkan

Pertunjukan Mendu

Seni pertunjukan mendu di Kalbar terancam tak lagi dimainkan karena regenerasi mandek. Pesat perkembangan zaman memengaruhi regenerasi seni yang lahir di Kalbar pada kurun 1871 itu.

Saat ini seni mendu dilestarikan oleh satu kelompok mendu di Kampung Malikian, Kabupaten Pontianak. Kampung ini merupakan daerah asal lahirnya seni tersebut.

Budayawan sekaligus seniman mendu Kalbar, Sataruddin Ramli, menilai, tidak adanya regenerasi seniman mendu dapat disebabkan beberapa faktor. Dia mencontohkan faktor perkembangan zaman yang begitu pesat. ”Belum lagi adanya pengaruh budaya barat yang tidak kalah hebatnya menerjang pelestarian kebudayaan kita,” kata.

Sataruddin menambahkan tingkat kesulitan berperan di dalam mendu, menjadi faktor lainnya. Pemeran mendu harus memiliki tingkat kemahiran bersilat, memainkan alat musik gong, biola, gendang, dan nyanyian khas pertunjukan mendu. Faktor terakhir ini disinyalir menjadi penyebab kurang tertariknya generasi muda memperdalam seni pertunjukan mendu.

Sejarah mencatat, seni pertunjukan mendu sempat dilarang pementasannya oleh Pemerintah Jepang di Kalbar yang kala itu menjajah Indonesia pada tahun 1943. Jepang khawatir dengan sering dipentaskannya mendu akan memengaruhi masyarakat untuk membenci pendudukan Jepang di Kalbar.

Soalnya, di setiap pertunjukan, seni mendu kerap kali melontarkan maupun menyindir kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat terlebih pada penjajahan Jepang. Namun, pada tahun 1947 mendu kembali diperbolehkan tampil di tengah-tengah masyarakat yang kala itu telah memperoleh kemerdekaannya.

Sataruddin mengatakan, seni pertunjukan mendu yang kental dengan pesan moral tersebut, dinilai masih sangat penting untuk diberikan ruang bagi pelestariannya di masyarakat. ”Saya berharap pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kalbar dapat memprogramkan pengenalan seni mendu kepada para pelajar. Tidak terlepas dengan pengenalan seni budaya tradisional lainnya yang melibatkan juga seniman pada pelaksanaannya,” katanya.