Kecil, Perhatian Pemerintah terhadap Koperasi

Pemerintah belum memberikan perhatian serius pengembangan koperasi di Indonesia. Itu tercermin dari alokasi APBN untuk koperasi hanya sebesar Rp 900 miliar dari total APBN senilai Rp 1.136 triliun.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Khofifah Indar Parawansa. Khofifah menyampaikan itu usai membuka Rapat Kerja Wilayah Dekopin Kalbar, di Kota Pontianak, pagi tadi.

“Persentasenya masih sangat kecil dibanding APBN. Karena itu pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap koperasi. Ini penting, karena koperasi selama ini sering terlupakan,” kata Khofifah.  

Selama ini, menurut Khofifah, sektor koperasi dan UMKM dianggap tahan terhadap krisis ekonomi, mampu menekan angka pengangguran, dan menggerakkan ekonomi rakyat. Mewujudkan kebijakan pro koperasi, lanjutnya, Dekopin mengajukan permohonan anggaran untuk meningkatkan potensi sejumlah koperasi yang ada di Indonesia.

Dana tersebut dinilainya bisa menciptakan daya saing dan peningkatan pertumbuhan koperasi. Dana itu juga digunakan untuk permodalan fasilitas usaha, pengembangan teknologi, percepatan akses informasi, dan media promosi bagi koperasi.

Khofifah menilai, pemerintah masih mengutamakan kebijakan sektor makro dibanding mikro dan riil. Usaha mikro tidak dianggap secara signifikan, dibanding negara lain yang serius melindungi sektor tersebut.

Selama tidak ada kebijakan politik yang pro koperasi, menurutnya sulit bagi koperasi bisa maju dan berkembang.

"Kami berharap kebijakan ekonomi politik pemerintah bisa terintegrasi dengan UKM dan Koperasi,” ujarnya.

Khofifah mencontohkan, kebijakan di sektor pertanian dengan cara mengubah gabungan kelompok tani (Gapoktan) menjadi koperasi. Demikian juga distribusi pupuk yang selama ini mengandalkan gabungan kelompok tani bisa dialihkan kepada koperasi.

“Seperti negara Swedia dan Swiss yang mampu menghalangi perusahaan skala besar di sektor penjualan ritel. Sementara di Indonesia banyak tertutup oleh kepentingan kapitalis yang besar,” ungkapnya.

Ketua Dekopin Wilayah Kalbar, Awang Sofian Rozali pada kegiatan itu mengajak masyarakat untuk tetap mencintai produk dalam negeri. Dengan rasa cinta terhadap produk dalam negeri, menurutnya, rasa solidaritas dan gotong-royong antarwarga semakin kuat, dan kesejahteraan meningkat.

 “Karena itu kita harus tetap mengembangkan sikap gotong-royong, gerakan kolektif, dan tetap mencintai produk dalam negeri, cinta hasil karya sendiri," ajaknya.