Tersangka Gratifikasi Diserahkan ke Penuntut Umum

Ilustrasi air leding

Kasus dugaan gratifikasi proyek jaringan pipa PDAM Kabupaten Melawi senilai Rp 65 miliar masuk tahap penyerahan barang bukti dan tersangka kepada jaksa penuntut umum. Selangkah lagi kasus itu masuk sidang pengadilan.

Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi Kalbar, Arifin Arsyad membenarkan, berkas salah seorang tersangka telah diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sintang. Kejaksaan tinggi menurutnya, hanya sebatas melakukan penyidikan.

“Nanti juga JPU yang akan melimpahkan berkas ke pengadilan. Berkas itu milik IPR, Direktur PT Batur,” kata Arifin Arsyad, pagi tadi.

Dalam kasus itu, Kejaksaan Tinggi Kalbar menetapkan empat tersangka. Berkas tiga tersangka lain belum masuk tahap dua dan masih di tangan penyidik.

Khusus berkas IPR, jaksa beralasan Direktur PT Batur itu ditahan kejaksaan yang memiliki batas waktu. Berbeda dengan tiga tersangka lain yang selama penyelidikan tidak ditahan. Penyerahan barang bukti dan tersangka sudah dilakukan kejaksaan sejak dua pekan lalu.

Kejaksaan kini juga menunggu turunnya izin Presiden untuk mengambil  keterangan seorang saksi. Saksi dianggap tahu kasus tersebut saat ini menjadi pejabat negara di DPR RI.

“Izin Presiden belum turun. Kita masih menunggu,” ungkap Arifin.

Kuasa hukum tersangka IPR, Rizal Karyansyah dikonfirmasi soal itu, membenarkan berkas kliennya sudah masuk tahap dua. Sekaligus berharap kasus tersebut segera dilimpahkan ke Pengadilan.  

“Saya menegaskan semua pengerjaan proyek sudah sesuai kontrak. Hasil temuan BPK juga sudah dibayar. Jadi sebetulnya tidak ada masalah. Maka kita sangat menginginkan kasus ini segera menemui titik terang dan memperoleh kepastian hukum,” kata Rizal.

Seperti diberitakan, proyek pembangunan pipanisasi PDAM Melawi memiliki pagu dana Rp 65 miliar. Proyek ini dibiayai APBD Kabupaten Melawi tahun anggaran 2006 dan 2007.

Namun dalam perkembangannya terjadi perubahan, yakni penambahan pembiayaan dalam dua tahun anggaran baru.

Penyidik Kejati Kalbar mulai fokus menangani kasus itu sejak awal Agustus 2010. Menjelang akhir Agustus, kasus tersebut ditingkatkan dari penyelidikan ke tahap penyidikan.

Kejati menemukan ada aliran dana dari PT BAM kepada sejumlah pihak di Melawi sebanyak Rp 5 miliar. Aliran uang tersebut diduga sebagai grafitikasi atau hadiah dari perusahaan.

Mantan Kabag Keuangan Setda Melawi, Pc ditetapkan sebagai tersangka sejak 25 Agustus 2010. Pc yang memerintahkan Bendahara Setda Melawi, FV mengirimkan nomor rekeningnya ke pihak PT BAM pada 12 Desember 2007 silam. Pada hari itu juga PT BAM mengirimkan uang senilai Rp 5 miliar.