Promosi Kalbar Melalui Film Tatung

Film Tatung

Sutradara muda berbakat, Agung Trihatmodjo, mempromosikan Kalbar melalui Film Tatung.

Film garapan Agung Trihatmodjo, ini mengangkat budaya Tionghoa melalui tradisi Tatung. Film ini memadukan realitas kehidupan Tatung kemudian di bingkai dalam kisah fiksi.

Bukan tanpa alasan, Agung Trihatmodjo, mengangkat budaya Tionghoa melalui secercah oret-oretan tinta hitamnya di sebuah kertas folio. Itu karena keinginan besarnya untuk mengangkat serta mempromosikan betapa Kalimantan Barat sangat kaya dengan beragam adat, tradisi, kebudayaan, maupun seninya.

Berawal dari susunan kata-kata itulah hasratnya semakin mengebu-gebu untuk membuat karyanya dikenang abadi di se-antero jagad perfilman. Tatung merupakan ide terbarunya dalam dunia perfilman.

Tatung sendiri merupakan ciri khas masyarakat Tionghoa dengan atraksi-atraksi yang memikat ribuan wisatawan lokal maupun asing yang menikmatinya. Memang, atraksi tahunan ini digelar di beberapa daerah, namun fokusnya di Kota Singkawang, Kalbar. Tatung sendiri merupakan ritual yang identik dengan perayaan hari ke-15 Tahun Baru Imlek. 

Agung Trihatmodjo memulai riset film ini pada September 2008. Ini menjadi tahap awal proses produksi film Tatung. Film mengangkat kisah hidup seorang Tatung ini bermula dari gagasan sederhana dari budaya lokal yang mengandung nilai-nilai luhur.

Film ini sendiri lebih difokuskan pada kehidupan keseharian Tatung di Kota Singkawang, sisi sosial dan ekonomi, budaya masyarakat Tionghoa, realitas sosial, serta kerukunan antaretnis.

Agung memercayakan skenario film ini kepada Faldin Martha Fachmi dan Surya Hr Hezra. Faldin sendiri pernah menulis beberapa skenario yang sukses diangkat dalam film, salah satunya Detik Terakhir, Terowongan Casablanca, Rumah Pondok Indah, Aku Cinta Kamu Titik, Seventeen, Ailopyupul, dan Skandal.

Setelah menemukan plot yang dirasa tepat untuk isi film tersebut, Agung kemudian mulai melirik beberapa nama senior-senior film yang memiliki loyalitas dan eksistensi mereka di dunia film tidak diragukan lagi. Beberapa nama itu seperti Nanang Istiabudi, Fariza Sari, dan Benny Kadarharianto.

Dia juga mengaet lebih dari 10 pemain lokal beretnis Tionghoa sebagai aktor dan aktris pendatang baru yang akan beradu akting dengan nama aktor dan aktris papan atas.

Film Tatung dibuat dalam format 35 mm (bioskop) dengan genre drama. Dengan setting film 100 persen di Kota Singkawang. "Keinginan dan harapan saya, film ini tidak hanya tenar di Indonesia. Tetapi sasaran kami hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, serta beberapa negara Asia lainnya," kata Agung Trihatmodjo.