Ngelem Merusak Kesehatan Anak

KPAID Sosialisasi Bahaya Ngelem
Sekretaris KPAID Provinsi Kalbar Chatarina Pancer Istiyani

Menghirup aroma lem bisa memutuskan ratusan urat saraf dan membuat pelakunya kecanduan. Aktivitas itu lebih berbahaya jika dilakukan anak-anak. Tidak hanya mengganggu perkembangan kesehatan anak, tetapi membuat anak menjadi kecanduan dan terus ingin mencoba.

Jika urat saraf terputus, anak akan mengalami beberapa gangguan fisik. Misalnya, malas belajar, nafsu makan berkurang, dan fisik melemah.

“Jika mereka dibiarkan tanpa ada pembinaan, bagaimana masa depan anak-anak ini? Yang pasti niat kedatangan kami di sini untuk mensosialisasikan bahaya ngelem tentunya dengan metode khusus. Tidak langsung mengarah untuk melarang ngelem, melainkan pelan-pelan dulu,” kata Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar, Chatarina Pancer Istiyani, saat mensosialisasikan bahaya ngelem pada anak-anak di bawah Tol Landak, Tanjung Hulu, Pontianak Timur, Selasa (14/2).

Menurut dia, aktivitas negatif itu harus diputus, meski diakuinya tidak mudah. Karena untuk memberitahukan secara langsung kepada anak-anak itu untuk tidak ngelem, lanjutnya, kemungkinan besar mereka tidak akan mengerti. Oleh sebab itu, tambahnya, semoga dengan pengetahuan ini mereka sedikit demi sedikit akan mengerti mengenai bahaya ngelem pada dirinya sendiri.

“Sangat beruntung sekali jika mereka langsung sadar setelah kami memberitahukan bahaya ngelem itu, karena nantinya kembali pada diri sendiri juga,” jelasnya.

Chatarina mengungkapkan, pihaknya mengetahui adanya beberapa anak-anak yang ngelem di daerah tersebut setelah menerima laporan dari warga sekitar yang mengetahui aktivitas mereka. “Ada ibu-ibu yang melapor langsung kepada saya dan tidak hanya satu orang melainkan ada juga yang dari anak-anak teman anak yang biasa ngelem tersebut,” ungkap Chatarina.

Setelah menerima laporan itu, kata dia, pihaknya langsung mendatangi lokasi tersebut untuk mengecek kebenarannya. Setelah positif, pihak KPAID Kalbar, kemudian membuat jadwal untuk mensosialisasikan mengenai bahaya ngelem. “Pada sosialisasi kali ini kami juga dibantu oleh anggota Parlemen Anak,” jelasnya.

Perbuatan ngelem tersebut, kata Chatarina, ternyata tidak hanya dilakukan di rumah, melainkan ada beberapa siswa yang melihat siswa yang lain ngelem di sekolah.

“Jika ini tidak segera dicegah, tentunya sangat berbahaya sekali terutama dengan masa depan mereka,” kata dia.