Tradisi Ziarah Makam Warga Tionghoa

Ketua Penasihat Yayasan Gotong Royong, Lie Miao Fo

Memasuki Bulan April, warga Tionghoa melaksanakan tradisi ziarah makam leluhur.  

Ritual ziarah makam biasa dilakukan pada 2 April atau jatuh pada hari ke-104 setelah titik balik matahari pada musim dingin (hari ke-15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi). Pada umumnya jatuh pada 5 April dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April.

Ciang Miang adalah ritual tahunan etnis Tionghoa bersembahyang dan ziarah ke makam sesuai ajaran Khonghucu. Ciang Miang atau Cung Yuang atau Shi Ku ini dilaksanakan setahun dua kali, setiap tanggal 1-15 bulan ke-3 dan ke-7 Imlek.

Ziarah makam Ciang Miang atau Ceng Beng (Qing Ming) merupakan ritual penting bagi warga Tionghoa. Tak heran, bila waktu pelaksanaan ritual ini tiba, warga Tionghoa di perantauan akan pulang melaksanakan ritual yang jatuh pada bulan ketiga kalender China ini. “Perantau yang berada di luar negeri sekalipun akan pulang kalau sudah tiba waktu  Ciang Miang,” kata Lie Miao Fo, Ketua Penasihat Yayasan Gotong Royong.

Lie Miao Fo didampingi, Sekretaris Yayasan Gotong Royong, Sumarto, mengatakan, orang Tionghoa sangat menghormati leluhurnya. Dalam kepercayaan mereka, leluhur yang telah meninggal dunia masih memiliki hubungan dengan kehidupan anak cucunya.

Bagi orang Tionghoa, hari ini merupakan suatu hari mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusara dan bersembahyang dengan makanan, buah-buahan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai aksesori, sebagai persembahan kepada nenek moyang.

Tradisi ziarah makam atau membersihkan makam leluhur ini tidak hanya dilakukan oleh warga Tionghoa yang menganut kepercayaan atau berkeyakinan dengan ajaran Konghucu. Tradisi ini juga biasa dilakukan oleh warga Tionghoa yang telah menganut agama lain seperti Katolik, Kristen, maupun Islam.

“Meski lain agama, mereka tetap ziarah ke makam leluhurnya dan melaksanakan tradisi Ciang Miang. Cara sembahyang mereka sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing, tidak harus dengan memegang dupa,” jelas Lie Miao Fo.